Sesi belajar matematika di rumah sering berakhir dengan drama, air mata, atau anak yang tiba-tiba “mogok” belajar? Mom and Dad tidak sendirian! Banyak orang tua menganggap sikap ini dikarenakan anak malas atau susah fokus. Namun, tahukah Mom and Dad bahwa seringkali bukan karena anak tidak mau belajar, melainkan karena ada rasa takut saat belajar? Yuk kenali istilah math anxiety pada anak sejak dini.

Apa Itu Math Anxiety?
Sebelum memarahi anak, Mom and Dad harus pahami dulu akarnya. Math Anxiety atau kecemasan matematika adalah perasaan tegang, cemas, atau takut yang muncul secara spesifik saat anak berhadapan dengan angka atau pemecahan masalah matematika.
Gejalanya bisa berupa:
- Mental block (tiba-tiba lupa rumus yang sudah dipelajari).
- Menghindari PR matematika dengan berbagai alasan.
- Hingga reaksi fisik seperti sakit perut atau pusing mendadak saat jam pelajaran matematika.
Ketika anak mengalami math anxiety, otak mereka merespons soal matematika sebagai ancaman. Akibatnya, alih-alih berpikir logis, otak mereka sibuk memproses rasa takut. Memarahi mereka justru akan memperparah kecemasan ini.
3 Pendekatan Tepat Atasi Math Anxiety Pada Anak
Daripada memberikan tekanan atau paksaan, berikut tiga pendekatan psikologis yang tepat untuk mengurangi math anxiety pada anak:
- Validasi Perasaannya, Bukan Hasilnya: Hindari kalimat, “Masa gini aja nggak bisa?” Ganti dengan validasi emosi, seperti: “Mommy lihat kamu kesal sekali sama soal ini. Susah ya? Istirahat sebentar yuk.” Ketika emosi anak divalidasi, level stres mereka menurun, dan otak kembali siap menerima informasi.
- Ubah Pola Pikir “Fixed” menjadi “Growth Mindset“: Anak yang mogok belajar biasanya berpikir dirinya memang tidak berbakat di matematika. Bantu ubah pola pikir ini menjadi, “Aku belum paham caranya, tapi kalau latihan pasti bisa”. Fokuslah pada usaha mereka, bukan pada nilai 100 semata.
- Gunakan Pendekatan Visual Dibanding Angka (CPA atau Concrete-Pictorial-Abstract): Matematika seringkali menakutkan karena terlalu abstrak. Gunakan benda nyata (buah, mainan) untuk menjelaskan konsep. Jika anak bisa “melihat” matematikanya, rasa takut akan berkurang.
Solusi Jangka Panjang: Ciptakan Lingkungan Belajar Menyenangkan
Jika 3 pendekatan di atas adalah pertolongan pertama di rumah, maka Sparks Math adalah solusi jangka panjang (les matematika) untuk membangun fondasi yang kuat. Mengapa metode belajar konvensional sering gagal mengatasi math anxiety? Karena seringkali hanya berfokus pada hafalan rumus (drilling).
Keunggulan Sparks Math untuk Anak dengan Math Anxiety (Kecemasan Matematika):
- Kurikulum Singapore (CPA Approach): Sparks Math menggunakan metode CPA (Concrete-Pictorial-Abstract) yang digunakan di Singapura untuk mengajarkan matematika. Metode ini mengubah angka-angka yang “menyeramkan” menjadi visual yang seru. Anak tidak merasa sedang belajar berat, tapi sedang memecahkan teka-teki.

- Pengajaran Critical Thinking: Tidak hanya menghitung, anak diajarkan critical thinking. Anak akan paham mengapa 2+2 = 4, bukan sekadar menghafalnya. Ini membangun kepercayaan diri yang tinggi.
- Lingkungan Belajar Suportif: Guru-guru di Sparks Math terlatih untuk menangani berbagai tipe siswa, memastikan setiap anak merasa aman untuk bertanya tanpa takut salah. Selain itu format kelas semi private memastikan perhatian guru akan terfokus kepada semua siswa.
Anak yang “mogok” belajar matematika bukanlah anak yang gagal. Mereka hanya butuh metode yang tepat untuk mengubah rasa takut menjadi rasa ingin tahu. Tertarik mencoba metode belajar matematika untuk yang bebas stres? Daftarkan buah hati Mom and Dad (3-13 tahun) untuk coba kelas gratis di Sparks Math sekarang juga!



