Rumus-Sisi-Tegak-Pythagoras

Matematika

Rumus Sisi Tegak Pythagoras

15 June 2026

Teorema Pythagoras adalah salah satu rumus matematika yang paling dikenal di seluruh dunia. Hampir setiap orang yang pernah duduk di bangku sekolah mengingat a² + b² = c² dalam satu bentuk atau lainnya. Tapi ada satu aspek dari teorema ini yang sering kurang mendapat perhatian: bagaimana jika yang ingin dicari bukan sisi miring, melainkan salah satu sisi tegak?

Banyak siswa yang sangat lancar menghitung sisi miring ketika kedua sisi tegak diketahui, tapi tiba-tiba kebingungan ketika soal membalik situasinya: sisi miring dan satu sisi tegak diketahui, dan sisi tegak yang lain harus dicari. Padahal, ini hanyalah aplikasi yang sama dari rumus yang sama, hanya dengan susunan aljabar yang sedikit berbeda.

Artikel ini membahas secara mendalam rumus sisi tegak Pythagoras, mulai dari fondasi konseptualnya, cara menurunkan rumus dari teorema dasar, hingga berbagai contoh soal dengan pembahasan yang menunjukkan cara berpikir yang tepat untuk setiap situasi.

Mengenal Kembali Komponen Segitiga Siku-Siku

Sebelum membahas rumus sisi tegak, mari pastikan pemahaman tentang komponen-komponen segitiga siku-siku sudah benar dan jelas, karena kebingungan tentang sisi tegak Pythagoras sering berakar dari kebingungan tentang identifikasi sisi-sisi ini.

Segitiga siku-siku memiliki tiga sisi dengan peran yang berbeda. Sisi miring (hipotenusa) adalah sisi terpanjang dalam segitiga siku-siku, yang selalu berhadapan dengan sudut siku-siku (90°). Dua sisi lainnya disebut sisi tegak atau kaki segitiga (legs), yang membentuk sudut siku-siku itu sendiri.

Cara paling mudah mengidentifikasi sisi miring adalah dengan mencari sudut siku-siku, kemudian melihat sisi mana yang berada di seberang sudut tersebut, tidak bersentuhan dengan sudut siku-siku itu. Sisi tersebut adalah sisi miring. Kedua sisi yang membentuk sudut siku-siku adalah sisi tegak.

Kesalahan identifikasi sisi miring vs sisi tegak adalah sumber kesalahan paling umum dalam soal Pythagoras, jauh lebih sering daripada kesalahan dalam aljabar atau perhitungan itu sendiri. Karena itu, langkah pertama dalam setiap soal Pythagoras, tanpa terkecuali, adalah mengidentifikasi dengan benar mana sisi miring dan mana sisi tegak.

Teorema Pythagoras: Mengingat Bentuk Dasarnya

Teorema Pythagoras menyatakan hubungan antara ketiga sisi segitiga siku-siku:

c² = a² + b²

Di mana c adalah sisi miring (hipotenusa) dan a serta b adalah dua sisi tegak.

Pemahaman konseptual yang penting di sini adalah bahwa rumus ini menyatakan hubungan antara KUADRAT dari ketiga sisi, bukan sisi-sisinya secara langsung. Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi tegak. Ini bukan tentang “sisi miring sama dengan jumlah sisi tegak” (yang jelas tidak benar karena melanggar ketidaksamaan segitiga), tapi tentang hubungan kuadrat-kuadratnya.

Menurunkan Rumus Sisi Tegak dari Teorema Dasar

Inilah inti dari artikel ini: bagaimana rumus untuk mencari sisi tegak diturunkan dari teorema dasar c² = a² + b².

Jika kita ingin mencari salah satu sisi tegak, katakanlah a, dan kita sudah mengetahui c (sisi miring) dan b (sisi tegak lainnya), kita perlu mengisolasi a dalam persamaan c² = a² + b².

Langkah aljabarnya sangat sederhana:

c² = a² + b²

c² – b² = a²

a² = c² – b²

a = √(c² – b²)

Inilah rumus sisi tegak Pythagoras:

a = √(c² – b²)

Atau secara umum, untuk mencari salah satu sisi tegak, rumusnya adalah:

sisi tegak = √(sisi miring² – sisi tegak lainnya²)

Perhatikan bahwa operasi yang dilakukan adalah PENGURANGAN, kebalikan dari mencari sisi miring yang menggunakan PENJUMLAHAN. Ini adalah perbedaan yang sangat penting dan sangat sering tertukar oleh siswa.

Mengapa Penting Memahami Mengapa Pengurangan, Bukan Penjumlahan?

Pemahaman konseptual tentang mengapa mencari sisi tegak membutuhkan pengurangan, bukan penjumlahan, sangat penting untuk mencegah kesalahan yang sangat umum: secara refleks menjumlahkan kuadrat dua sisi yang diketahui, padahal seharusnya dikurangkan.

Bayangkan persamaan c² = a² + b² sebagai sebuah keseimbangan: kuadrat sisi miring “terdiri dari” kuadrat dua sisi tegak yang digabungkan. Jika kita sudah mengetahui “total” (c²) dan salah satu “bagian” (b²), maka untuk mencari “bagian lainnya” (a²), kita harus MENGURANGKAN bagian yang diketahui dari totalnya: a² = c² – b².

Analogi yang sangat membantu: jika total uang kamu dan temanmu adalah Rp100.000, dan kamu tahu uang temanmu Rp40.000, berapa uangmu? Tentu saja kamu mengurangkan: Rp100.000 – Rp40.000 = Rp60.000, bukan menjumlahkan. Logika yang sama berlaku untuk c² = a² + b²: jika c² adalah “total” dan b² adalah salah satu “bagian”, maka a² (bagian lainnya) ditemukan dengan pengurangan.

Identifikasi yang Tepat: Mana yang Sisi Miring dalam Soal?

Langkah paling kritis sebelum menerapkan rumus apapun, baik untuk mencari sisi miring atau sisi tegak, adalah mengidentifikasi dengan benar mana sisi miring dalam soal. Kesalahan dalam identifikasi ini akan menyebabkan penerapan rumus yang salah, meskipun langkah aljabar selanjutnya benar.

Tanda-tanda yang membantu mengidentifikasi sisi miring: sisi miring selalu yang TERPANJANG di antara ketiga sisi (karena c² = a² + b² selalu menghasilkan c lebih besar dari a maupun b secara individual, asalkan a dan b positif). Sisi miring selalu berhadapan dengan sudut siku-siku dalam gambar. Dalam banyak soal, sisi miring sering (tapi tidak selalu) diberi label c, sedangkan sisi tegak diberi label a dan b.

Ketika menghadapi soal cerita tanpa gambar yang jelas, identifikasi konteksnya: tangga yang bersandar pada dinding (panjang tangga adalah sisi miring, jarak dari dinding ke kaki tangga dan ketinggian tangga pada dinding adalah sisi tegak); diagonal layar TV (diagonal adalah sisi miring, lebar dan tinggi layar adalah sisi tegak); jarak tempuh diagonal melalui lapangan (diagonal adalah sisi miring, dua sisi lapangan adalah sisi tegak).

Contoh Soal Level Dasar dengan Pembahasan

Soal 1: Mencari Sisi Tegak dari Sisi Miring dan Sisi Tegak Lain

Sebuah segitiga siku-siku memiliki sisi miring 13 cm dan salah satu sisi tegaknya 5 cm. Berapa panjang sisi tegak yang lain?

Pembahasan: Identifikasi: c = 13 cm (sisi miring, sisi terpanjang), b = 5 cm (sisi tegak yang diketahui), a = ? (sisi tegak yang dicari).

Gunakan rumus: a = √(c² – b²) = √(13² – 5²) = √(169 – 25) = √144 = 12 cm.

Verifikasi: a² + b² = 12² + 5² = 144 + 25 = 169 = 13² = c². Benar.

Catatan: 5-12-13 adalah tripel Pythagoras yang sangat umum. Mengenali tripel-tripel umum (3-4-5, 5-12-13, 8-15-17, 7-24-25) bisa mempercepat penyelesaian banyak soal.

Soal 2: Soal dengan Bilangan yang Tidak Membentuk Tripel Rapi

Sebuah segitiga siku-siku memiliki sisi miring 10 cm dan salah satu sisi tegaknya 6 cm. Berapa panjang sisi tegak yang lain?

Pembahasan: a = √(c² – b²) = √(10² – 6²) = √(100 – 36) = √64 = 8 cm.

Verifikasi: 8² + 6² = 64 + 36 = 100 = 10². Benar. (6-8-10 adalah kelipatan 2 dari 3-4-5).

Contoh Soal Level Menengah dengan Pembahasan

Soal 3: Soal Cerita Tangga

Sebuah tangga sepanjang 5 m disandarkan pada dinding. Jika ujung bawah tangga berjarak 3 m dari dinding, pada ketinggian berapa ujung atas tangga menyentuh dinding?

Pembahasan: Identifikasi: panjang tangga adalah sisi miring (c = 5 m) karena tangga merupakan sisi yang menghubungkan ujung bawah (di tanah) dengan ujung atas (di dinding) tanpa membentuk sudut siku-siku dengan keduanya secara langsung. Jarak dari dinding (3 m) adalah salah satu sisi tegak (b = 3 m). Ketinggian pada dinding (yang dicari) adalah sisi tegak lainnya (a).

a = √(c² – b²) = √(5² – 3²) = √(25 – 9) = √16 = 4 m.

Ujung atas tangga menyentuh dinding pada ketinggian 4 m.

Soal 4: Soal Layang-Layang

Seorang anak menerbangkan layang-layang dengan tali sepanjang 25 m. Jika layang-layang berada pada ketinggian 20 m di atas tangan anak tersebut, berapa jarak horizontal antara anak dan posisi layang-layang (diukur sepanjang tanah)?

Pembahasan: Identifikasi: panjang tali (25 m) adalah sisi miring karena menghubungkan tangan anak dengan layang-layang secara langsung (diagonal). Ketinggian layang-layang (20 m) adalah salah satu sisi tegak. Jarak horizontal (yang dicari) adalah sisi tegak lainnya.

jarak horizontal = √(25² – 20²) = √(625 – 400) = √225 = 15 m.

Soal 5: Mencari Lebar dari Diagonal dan Panjang

Sebuah lapangan berbentuk persegi panjang memiliki diagonal 26 m dan panjang 24 m. Berapa lebar lapangan tersebut?

Pembahasan: Diagonal persegi panjang adalah sisi miring dari segitiga siku-siku yang terbentuk oleh panjang dan lebar lapangan.

lebar = √(diagonal² – panjang²) = √(26² – 24²) = √(676 – 576) = √100 = 10 m.

Verifikasi: 24² + 10² = 576 + 100 = 676 = 26². Benar. (10-24-26 adalah kelipatan 2 dari 5-12-13).

Contoh Soal Level Lanjut dengan Pembahasan

Soal 6: Soal dengan Variabel Aljabar

Sebuah segitiga siku-siku memiliki sisi miring (2x + 3) cm dan salah satu sisi tegaknya (2x) cm. Sisi tegak lainnya adalah 9 cm. Tentukan nilai x.

Pembahasan: Gunakan teorema Pythagoras langsung (bukan rumus sisi tegak, karena yang dicari adalah variabel, bukan panjang sisi secara langsung):

(2x+3)² = (2x)² + 9²

4x² + 12x + 9 = 4x² + 81

12x + 9 = 81

12x = 72

x = 6.

Verifikasi: sisi miring = 2(6)+3 = 15 cm, sisi tegak pertama = 2(6) = 12 cm, sisi tegak kedua = 9 cm. Periksa: 15² = 12² + 9² → 225 = 144 + 81 = 225. Benar. (9-12-15 adalah kelipatan 3 dari 3-4-5).

Soal 7: Soal Gabungan dengan Konteks Bangun Ruang

Sebuah kotak berbentuk balok memiliki diagonal sisi (diagonal pada salah satu permukaannya) sepanjang 17 cm. Jika salah satu dimensi permukaan tersebut adalah 8 cm, berapa dimensi yang lain?

Pembahasan: Diagonal sisi balok adalah sisi miring dari segitiga siku-siku yang dibentuk oleh dua dimensi permukaan tersebut.

dimensi yang dicari = √(17² – 8²) = √(289 – 64) = √225 = 15 cm.

Verifikasi: 8² + 15² = 64 + 225 = 289 = 17². Benar. (8-15-17 adalah tripel Pythagoras primitif yang umum).

Soal 8: Soal dengan Dua Segitiga yang Terhubung

Pada gambar, terdapat segitiga ABC siku-siku di B dengan AB = 12 cm dan BC = 5 cm. Titik D berada pada perpanjangan BC sedemikian sehingga AD = 20 cm dan segitiga ABD juga siku-siku di B. Tentukan panjang CD.

Pembahasan: Pertama, hitung AC menggunakan segitiga ABC: AC = √(AB² + BC²) = √(12² + 5²) = √(144+25) = √169 = 13 cm. (Ini menggunakan rumus sisi miring karena AC adalah sisi miring dari segitiga ABC.)

Kedua, hitung BD menggunakan segitiga ABD: karena segitiga ABD siku-siku di B dengan AD sebagai sisi miring (20 cm) dan AB sebagai salah satu sisi tegak (12 cm), maka BD = √(AD² – AB²) = √(20² – 12²) = √(400-144) = √256 = 16 cm.

Ketiga, CD = BD – BC = 16 – 5 = 11 cm.

Soal ini menunjukkan bahwa dalam soal yang lebih kompleks, kita mungkin perlu menggunakan KEDUA rumus (sisi miring dan sisi tegak) pada bagian-bagian berbeda dari gambar yang sama.

Strategi Mengenali Kapan Menggunakan Penjumlahan vs Pengurangan

Strategi paling sederhana dan paling andal untuk menghindari kebingungan antara menjumlahkan atau mengurangkan adalah selalu mulai dari rumus dasar c² = a² + b² dan secara eksplisit mengidentifikasi apa yang diketahui dan apa yang dicari sebelum melakukan substitusi apapun.

Jika yang dicari adalah c (sisi miring), maka c² = a² + b², sehingga c = √(a² + b²). PENJUMLAHAN.

Jika yang dicari adalah a atau b (sisi tegak), maka a² = c² – b² (atau b² = c² – a²), sehingga a = √(c² – b²). PENGURANGAN.

Kebiasaan menuliskan rumus dasar c² = a² + b² terlebih dahulu, mengidentifikasi variabel mana yang merupakan sisi miring (selalu c, selalu yang terpanjang, selalu berhadapan dengan sudut siku-siku), kemudian melakukan manipulasi aljabar yang sesuai, akan mencegah kesalahan ini secara konsisten.

Latihan Mengenali Tripel Pythagoras yang Umum

Mengenali tripel Pythagoras (set tiga bilangan bulat yang memenuhi a² + b² = c²) sangat membantu mempercepat penyelesaian soal dan juga membantu memverifikasi jawaban dengan cepat.

Tripel Pythagoras primitif yang paling umum: 3-4-5, 5-12-13, 8-15-17, 7-24-25, 20-21-29, 9-40-41.

Setiap tripel primitif memiliki kelipatan yang juga merupakan tripel Pythagoras: kelipatan 2 dari 3-4-5 adalah 6-8-10, kelipatan 3 adalah 9-12-15, dan seterusnya.

Ketika menghadapi soal sisi tegak, jika dua angka yang diketahui sesuai dengan salah satu tripel ini (atau kelipatannya), jawaban bisa langsung “dikenali” tanpa perlu menghitung akar kuadrat secara manual. Misalnya, jika sisi miring 25 dan satu sisi tegak 7, anak yang mengenali tripel 7-24-25 langsung tahu sisi tegak lainnya adalah 24.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

Ada beberapa kesalahan yang sangat sering terjadi dalam soal sisi tegak Pythagoras.

Kesalahan pertama dan paling umum adalah menjumlahkan kuadrat kedua sisi yang diketahui, padahal seharusnya dikurangkan. Ini terjadi karena anak terlalu cepat menerapkan “rumus Pythagoras” tanpa mengidentifikasi terlebih dahulu mana sisi miring dan mana sisi tegak.

Kesalahan kedua adalah salah mengidentifikasi sisi miring dalam soal cerita. Selalu identifikasi sisi miring sebagai sisi terpanjang dan sisi yang berhadapan langsung dengan sudut siku-siku, terutama dalam konteks soal cerita di mana tidak ada gambar yang eksplisit.

Kesalahan ketiga adalah lupa mengambil akar kuadrat di langkah terakhir. Hasil dari c² – b² adalah a², bukan a. Pastikan selalu mengambil akar kuadrat untuk mendapatkan jawaban final.

Kesalahan keempat adalah tidak memverifikasi jawaban. Setelah menemukan sisi tegak, substitusikan kembali ke rumus c² = a² + b² untuk memastikan persamaan tersebut benar.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara belajar geometri dan teorema Pythagoras dengan pendekatan yang membangun pemahaman mendalam dari fondasi yang benar, silakan kunjungi Sparks Math.

Kesimpulan

Rumus sisi tegak Pythagoras, a = √(c² – b²), bukan rumus yang berbeda dari teorema Pythagoras yang sudah dikenal. Ia adalah hasil dari manipulasi aljabar sederhana terhadap c² = a² + b², dengan satu perbedaan kunci: operasi pengurangan menggantikan penjumlahan karena kita mencari salah satu “bagian” dari “total”, bukan “total” itu sendiri.

Dengan selalu memulai dari rumus dasar, mengidentifikasi dengan benar mana sisi miring dan mana sisi tegak, memahami logika di balik pengurangan, dan melatih berbagai tipe soal dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks, sisi tegak Pythagoras akan menjadi salah satu konsep yang paling solid dan paling bisa diandalkan dalam bekal matematika anak.

Temukan juga berbagai artikel lainnya seputar teorema Pythagoras, geometri, dan strategi belajar matematika yang efektif untuk berbagai jenjang usia di blog Sparks Math.

Artikel Terkait

Siap Optimalkan Matematika si Kecil

Tim Sparks Math siap membantu Anda memilih program yang paling tepat untuk si Kecil.
Konsultasi gratis, tanpa tekanan, tanpa komitmen!

Scroll to Top