Pernahkah Mom and Dad bertanya-tanya, negara mana yang bisa mencetak siswa-siswa dengan kemampuan akademik paling unggul di dunia? China? Jepang? Korea Selatan? Amerika Serikat? Jerman? Finlandia? Jawabannya adalah negara mungil tetangga kita, Singapura. Mengapa negara sekecil Singapura bisa mencetak siswa-siswa dengan kemampuan akademik paling unggul di dunia? Jawabannya bukan hanya pada ketekunan siswa, melainkan pada metode dan kurikulum yang mereka gunakan.

Dunia pendidikan internasional beberapa waktu lalu dikejutkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 karena Singapura merebut posisi 1 dari China (juara 1 PISA 2018). Hasil ini menjadi alasan kuat mengapa Sparks Math memilih untuk membawa standar emas ini ke Indonesia melalui program les matematika kurikulum Singapore & Cambridge untuk anak usia 3-13 tahun.
Mari kita bedah datanya dan alasan mengapa kurikulum ini dianggap yang terbaik.
Dominasi Singapura di PISA 2022
PISA adalah studi global yang dilakukan oleh OECD (organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Korea Selatan, Belanda, dan lain-lain) setiap tiga tahun untuk mengukur kemampuan anak usia 15 tahun dalam menghadapi tantangan dunia nyata.
Pada hasil PISA 2022 yang dirilis akhir 2023 lalu, Singapura menyapu bersih peringkat 1 di dunia untuk tiga kategori utama:
- Matematika
- Membaca (Reading)
- Sains (Science)
Yang paling mencolok adalah skor matematika mereka. Siswa Singapura mencatatkan skor rata-rata 575. Menurut OECD, keunggulan skor ini setara dengan tiga hingga lima tahun masa sekolah tambahan dibandingkan dengan siswa dari negara-negara lain. Ini membuktikan bahwa metode pembelajaran mereka sangat efektif dalam menanamkan logika, bukan sekadar hafalan.
Bagaimana dengan Indonesia? Sebuah Refleksi
Kita perlu melihat data ini sebagai motivasi. Berdasarkan laporan yang sama, hasil PISA 2022 untuk siswa Indonesia menunjukkan adanya penurunan (sebagian besar dipengaruhi oleh learning loss akibat pandemi).
- Skor matematika anak Indonesia adalah 366 (peringkat 70 dari 81 negara).
- Ada selisih lebih dari 200 poin antara rata-rata siswa Indonesia dan Singapura.
Data ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan pendekatan baru. Metode konvensional yang berfokus pada hafalan rumus terbukti kurang efektif untuk membangun kemampuan nalar (numerasi) yang dibutuhkan untuk bersaing di level global.
Rahasia Keunggulan Kurikulum Singapura
Mengapa kurikulum Singapura, terutama kurikulum matematikanya begitu sukses? Rahasianya terletak pada pendekatan CPA (Concrete, Pictorial, Abstract).
Meskipun dipopulerkan oleh Singapura, metode CPA (Concrete, Pictorial, Abstract) sebenarnya berakar dari teori dari pakar psikologi pendidikan asal Amerika Serikat, Jerome Bruner, pada tahun 1960-an. Pada awal tahun 1980-an, Kementerian Pendidikan Singapura mengadopsi teori Bruner ini untuk merevolusi kurikulum matematika nasional mereka yang saat itu masih tertinggal.
Bruner menemukan bahwa otak anak tidak bisa dipaksa langsung memahami simbol abstrak (angka dan rumus) sehingga metode CPA menjadi jembatan dan solusi yang mengubah cara belajar dari menghafal menjadi memahami.
Alih-alih langsung menyodorkan angka, anak-anak diajarkan matematika melalui tahapan:
- Concrete (Nyata): anak memegang bendanya (fisik).
- Pictorial (Gambar): anak melihat gambarnya (misalnya Bar Model).
- Abstract (Abstrak): baru anak menulis angkanya.

Pendekatan ini membuat matematika menjadi masuk akal, visual, dan tidak menakutkan. Fokusnya adalah mastery (penguasaan mendalam), bukan sekadar kecepatan menghitung.
Proses inilah yang membuat konsep matematika “menempel” permanen di otak anak, menjadikan fondasi mereka jauh lebih kuat dibandingkan anak yang hanya diajar menghafal rumus cepat.
Dari Usia Dini Menuju Juara Dunia
Mungkin Mom and Dad bertanya, kalau tes PISA dilakukan untuk anak usia 15 tahun, apa relevansinya untuk anak saya yang masih TK atau SD? Prestasi gemilang siswa Singapura di usia 15 tahun bukanlah hasil instan. Hal tersebut adalah buah dari fondasi matematika yang kuat yang dibangun sejak dini (TK & SD). Anak-anak Singapura hebat di usia 15 tahun karena di usia 3-13 tahun mereka sudah belajar matematika dengan metode yang benar (CPA). Sparks Math membawa metode dan kurikulum ini agar anak Mom and Dad siap menjadi juara di masa depan.
Mengapa Sparks Math Memilih Kurikulum Singapore & Cambridge?
Di Sparks Math, kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi juara jika diberi metode yang tepat. Melihat data empiris dari PISA 2022 dan efektivitas metode CPA, kami berkomitmen menghadirkan kurikulum ini untuk anak-anak Indonesia.
Berikut alasan kami merancang program untuk usia 3-13 tahun dengan standar ini:
- Membangun Fondasi Sejak Dini: Usia 3-13 tahun adalah golden age. Dengan metode visual dan pengajaran interaktif khas Sparks Math, konsep matematika yang rumit menjadi mudah dipahami.
- Fokus pada Problem Solving: Kurikulum kami tidak hanya mengajarkan cara berhitung, tetapi cara berpikir. Siswa dilatih untuk memecahkan masalah cerita yang kompleks, skill yang sangat kurang pada hasil PISA Indonesia.
- Standar Internasional: Kombinasi kurikulum Singapore yang kuat dalam konsep dan Cambridge yang luas cakupannya mempersiapkan anak Anda untuk bersaing secara global, bukan hanya lokal.
Siapkan Masa Depan Anak Bersama Sparks Math
Hasil PISA 2022 untuk negara Singapura adalah bukti nyata bahwa metode yang tepat menghasilkan output yang luar biasa. Jangan biarkan anak Mom and Dad tertinggal. Berikan mereka akses ke metode pembelajaran matematika terbaik dunia sekarang juga. Tertarik melihat bagaimana kurikulum Singapura bekerja secara nyata membantu anak Mom and Dad memahami matematika? Daftar untuk coba kelas gratis Sparks Math sekarang (untuk anak usia 3-13 tahun). Sparks Math telah membuka cabang di Bintaro, Kelapa Gading, Kalimalang, Tebet (segera), Taman Yasmin – Bogor (segera), dan Bandung (segera).

